Jumat, 03 Mei 2019


AGENT OF CHANGE
RINDA AZIZAH A.P
PEND. MATEMATIKA

1C


Seperti yang kita lihat sekarang remaja saat ini bisa di katakan generasi X, yaitu generasi milenial. Generasi milenial berkisar dari tahun 1990 sampai dengan tahun 2000. Ya generasi mineal harus memiliki sikap kreatif, inovatif, dan aktif. Kenapa harus seperti itu? Ya karena telah terbukti dalam penelitian generasi milenial ini berbeda dengan generasi yang lainnya. Generasi milenial dikatakan lebih mendekat dengan teknologi. Seperti yang kita lihat anak zaman now yang tingkahnya bermacam ragam . Kehidupan generasi milenial ini seharusnya lebih indah dan menyenangkan,karena teknologi yang sudah canggih dan akses untuk apapun mudah. Seharusnya kita tak boleh kalah dengan generasi Negara tetangga karena generasi milenial ini sangat berwawasan tinggi dan intelek. Generasi ini adalah generasi perubah peradaban dunia yang berwawasan luas dan berpendidikan tinggi. Dalam generasi sekarang ini canggihnya teknologi bukan untuk membuat kita malas, bukan untuk membuat kita bergantung selalu padat teknologi. Ya kita boleh memanfaatkan teknologi tapi ingat ada hal yang harus dieksekusi
Berbicara tentang dunia informasi dan telekomunikasi yang canggih telah membawa perubahan yang sangat drastis kepada generasi muda kita. Perubahan ini mulai kita rasakan dari cara berkomunikasi, berbagai kemudahan akses terhadap informasi sampai cara kita berpikir dan respons kita terhadap permasalahan yang ada. Selama perubahan ini menguntungkan kita, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, justru perubahan ini terkadang membawa kita menjadi makhluk yang bodoh dan cenderung pemalas. Kita terlalu asyik menikmati semua hasil penemuan generasi sebelumnya, sehingga merasa cukup dan terbiasa. Di sinilah tantangan kita untuk bangkit dari lembah kehancuran ini.’Selanjutnya, ini menjadi hal yang sangat penting dan menarik untuk dibahas. Mulai dari mengapa hal ini dapat terjadi, bagaimana kondisi umat pada zaman keemasan Islam sedang berlangsung dan bagaimana nikmatnya hidup pada zaman sains dan teknologi Islam sedang berkembang dengan pesat sampai bagaimana kondisi umat di tengah zaman yang rentan ini.
Hilangnya konsep pemahaman nilai Islam menjadi salah satu inti permasalahan yang lambat laun akan membawa Islam ke gerbang kehancuran. Kelemahan pemahaman ini antara lain berkenaan dengan nas-nas ajaran Islam, Bahasa Arab dan ketidaksuaian praktik ajaran Islam dalam realitas kehidupan. Bentuk pelemahan ini juga diperparah dengan intensifnya serangan-serangan budaya dan peradaban barat yang bertentangan dengan budaya dan ajaran Islam, di tengah melemahnya budaya dan peradaban Islam itu sendiri.
Cara barat meyakinkan umat Islam dengan ideologi yang mereka bawa juga terkesan unik. Mereka menyampaikan bahwa peradaban dan budaya barat tidak bertentangan dengan budaya dan peradaban Islam itu sendiri. Mereka meyakinkan bahwa peradaban barat akan menyempurnakan peradaban Islam dan tidak akan menghapuskannya dari keberadaan masyarakat, hingga akhirnya pemahaman umat terhadap Islam makin melemah. Buktinya adalah umat mulai melegalkan hukum barat di negaranya, menakwilkan riba dan membuka bank-bank.
Adapun kelemahan dalam penerapan Islam, salahnya penerapan konsep keislaman pada aspek kehidupan. Diantaranya ialah, maraknya partai-partai politik yang menggunakan kekuatan militer sebagai basis kekuatan partai dan menjaga kekuasaan, bukan berorientasi pada dukungan umat..
Dua inti permasalahan inilah yang mengantarkan Islam pada gerbang kehancuran. Dimulai dari kurangnya pemahaman konsep keislaman pada umat, terlebih pada kaum pemudanya. Sekarang adalah zaman dimana tantangan umat Islam tehadap gempuran informasi dari Barat dan mudahnya bagi Barat menyusupkan ideologi-ideologi mereka yang bertentangan dengan Syariat Islam
Generasi milenial muslim ini harus menghadapi kenyataan bahwasanya budaya dan peradaban Barat tidak dapat dibendung lagi. Mereka harus memiliki benteng pertahanan yang lebih kuat ketimbang generasi pendahulu mereka. Mereka harus memutar otak mencari cara bertahan di tengah arus modernitas ini, bukan hanya mempertahankan nilai pemahaman dan konsep penerapan hukum Islam, namun mereka harus menyampaikannya dengan cara yang dapat diterima masyarakat modern, tidak melalui kekerasan dan menunjukkan kasih sayang Islam ke seluruh umat manusia.
Faktanya, masih banyak umat Muslim yang memiliki pengetahuan sangat lemah, bahkan kebanyakan dari mereka tidak tahu identitas agama mereka sendiri. Terkadang mereka malu untuk menunjukkan bahwa "AKULAH ISLAM". Mereka terlalu bangga untuk menggunakan identitas Barat yang modern.
Di sisi lain, kondisi generasi muslim muda di Indonesia jauh dari kata baik. Pasalnya, mereka terlalu banyak mengadopsi budaya dari luar. Mereka hanyut dalam arus globalisasi dan lupa dari mana mereka berasal. Mulai dari cara berpakaian, tingkah laku, sopan santun seakan hilang bertahap dari jiwa muda muslim di Indonesia. Perlahan mereka meninggalkan budaya berpakaian Islam yang sopan dan lebih senang menggunakan budaya berpakaian dari Barat yang terkesan terbuka. Mereka beranggapan bahwa berpakaian Islam itu ketinggalan zaman dan berpakaian mengadopsi Barat menunjukkan modernitas.
Generasi Millennial ini cenderung terlalu sering menatap gadget mereka. Keadaan ini di sebabkan karena mereka tidak mau ketinggalan dengan informasi yang ada di gadget mereka. Hal ini sebenarnya wajar, karena generasi ini hidup di lingkungan yang beda dari sebelumnya. Tetapi, hal ini tidak wajar jika sampai mempengaruhi kualitas Iman dari seorang Muslim.
Di dunia nyata, mestinya generasi ini tetap melakukan hubungan sosial dengan lingkungan sekitar mereka.  Tidak boleh gadget membuat muslim yang berkualitas menjadi anti-sosial, tidak memedulikan keadaan lingkungan sekitar mereka.
Dan, tugas seorang muslim di dunia digital adalah berdakwah. Ini lah pemanfaatan yang luar biasa dari teknologi dan ini membantu Islam secara umum. Pada dasarnya, sosial media sangat menarik bagi generasi muda ini dan menjadi wadah yang sangat bagus untuk menyebarkan informasi secara cepat ke siapa pun dan dimana pun.
Terkadang, memanfaatkan teknologi tidak hanya dibutuhkan penggunaan yang bijak, tetapi kita harus menjadi muslim yang cerdas dalam mengakses informasi yang luas di internet. Ini dikaitkan dengan kondisi Indonesia belakangan marak munculnya situs palsu atau sumber yang tidak dapat dipercaya sebagai sumber Ilmu Islam.

0 komentar:

Posting Komentar