Jumat, 03 Mei 2019


2019 Bukan Pesta ‘Democrazy’ Bagi Generasi Millenial Islami
(Oleh : Rizky Yahya/Matkom VI B)


Tidak terasa lima tahun sudah berlalu. Ungkapan itu yang mungkin muncul dari benak diri kita setelah merasakan suasana pemilu 2014 yang penuh dengan kontroversi. Pemilu yang bertujuan untuk memilih satu pemimpin untuk memimpin negeri berubah menjadi perpecahan antara dua kubu yang mendukung masing-masing paslon. Meskipun sudah 4 tahun lebih sejak Presiden Joko Widodo di lantik hingga sekarang masih tidak ada tanda-tanda kedatangan persatuan untuk saling menghargai satu sama lain. Lantas, bagaimana peran kita sebagai generasi pemuda muslim yang belum ikut serta dalam pemilu 2014 dalam menghadapai pesta demokrasi lima tahunan ini? Akankah kita mengikuti orang-orang terdahulu yang mendukung dengan cara yang salah sehingga menambah perpecahan? Mampukah kita merubah tradisi ini sehingga tidak perlu ada perpecahan lagi di masa yang akan datang?
Indonesia memiliki asas LUBER JURDIL dalam pemilu dan pileg yang diadakan. LUBER JURDIL merupakan singkatan dari Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur dan Adil. Sebenarnya, jika kita semua menerapkan asas rahasia dan saling menghargai, maka tidak akan ada perpecahan yang terjadi di setiap pemilu karena pilihan ada dalam hati setiap individu yang tidak perlu dipublikasikan sehingga tidak memicu perdebatan karena perbedaan pilihan. Mengutarakan pilihan sebenarnya sah sah saja selama dengan cara yang baik, santun, dan rendah hati. Namun, kenyataannya tidak sedikit para pendukung saat ini hanya bisa mencela dan memfitnah paslon lawan. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran islam karena menghina dan memfitnah itu dilarang oleh Allah SWT.
Perpecahan merupakan hal yang dibenci oleh Allah SWT khususnya bagi umat islam. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 103 yang artinya : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu [masa Jahiliyah] bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Ayat diatas seharusnya cukup untu menjadi alasan bahwa kita Bangsa Indonesia dengan mayoritas umat islam tidak perlu mengorbankan persatuan dan kesatuan bangsa tercinta ini. Persatuan bangsa ini terlalu mahal apabila terpecah hanya karena masalah perbedaan pilihan politik. Peran remaja muslim saat ini sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan polemik yang mengancam persatuan bangsa ini. Langkah kecil yang harus dilakukan oleh remaja muslim saat ini adalah dengan berprasangka baik terhadap kedua pasangan calon bahwa mereka sedang berjuang untuk memperbaiki negara ini sehingga kita hanya perlu mendukung mana yang lebih baik dengan tidak mencela pasangah calon yang lain.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Hujurat ayat 11-12 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain [karena] boleh jadi mereka [yang diolok-olok] lebih baik dari mereka [yang mengolok-olok] dan jangan pula wanita-wanita [mengolok-olok] wanita-wanita lain [karena] boleh jadi wanita-wanita [yang diperolok-olokkan] lebih baik dari wanita [yang mengolok-olok] dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri [1] dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah [panggilan] yang buruk sesudah iman [2] dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (11) Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (12)”.
Sesuatu yang dapat kita pelajari dari ayat diatas adalah berprasangka baik dan tidak mencela orang lain karena yang kita pilih belum tentu lebih baik dan yang kita cela belum tentu lebih buruk. Rencana terbaik adalah rencana Allah SWT sehingga siapapun yang kita dukung, kita tidak akan pernah merasa sombong dan tetap rendah hati serta yakin siapapun yang terpilih adalah yang terbaik menurut bangsa ini.
Islam berasal dari kata ‘salaam’ yang artinya damai. Al-Qur’an merupakan pedoman yang dipakai oleh umat islam dalam menjalankan kehidupan di dunia, maka Al-Qur’an pasti mengajarkan tentang perdamaian sehingga tidak seharusnya ayat Al-Qur’an dimanfaatkan untuk menebar kebencian. Jika esensi Al-Qur’an diterapkan dengan sebenar-benarnya, maka bangsa ini tidak akan mudah terpecah belah dan pemilu akan terlaksana dengan damai. Peran pemuda muslim diharapkan mampu mengembalikan esensi Al-Qur’an agar terciptanya pesta demokrasi yang damai bukan pesta ‘democrazy’ yang rusuh.


0 komentar:

Posting Komentar